Wangi November

                (photo by thiktara)



suara-suara menjerit
satu dua orang berjalan membawa api
bau anyir disinggana raja, hadir membawa malapetaka
saling melempar jeruji ditekan habis konspirasi

tanah anarki bebas kau hianati
hukum memakan orang baik
yang berpeci di caci maki
yang bobrok di sanjung setengah mati
seperti rumah ini milikmu saja, bebas kau gadai bumi pertiwi.

belum cukup laut menelan mati
badai asap sanasini,
sampai senja menjadi gelap
sampai hujan mengalirkan darah
sampai kita terus di jajah
baru kau sadar lalu berlari

siapa yang coba kau lindungi ?
air busuk akan tetap tercium meski kau tutup di antara padipadi .


puisi terjeda di palung luka paling dalam, getar kata menelan pahit tintatinta.
mulut di jahit sampai bernanah
jiwa yang terbang memanggil bapaknya
tembakan di rentina mata tak pernah jauh dari pembalasan
kenali orang ini jangan sampai lolos meski kau berkedip

November pilu ku kini
dan Fatimah bidadariku,
Negeri ini boleh kau katai
asal jangan kau pergi dengan si pencuri
lihat saja hujan yang kau bilang bau tanah akan menjadi menakutkan.

Ambon,
Waiheru Perumnas 24 November 2018

0 Comments:

Posting Komentar

My Instagram