Reading
5
Comments
Desa kami berada di pesisir Timur. masa kecil selalu di habiskan dengan bermain di pantai dan pergi ke hutan. Kerang, bia dan ikan di olah menjadi makanan pelengkap menyantap papeda. pasir putih seputih tepung bisa di bentuk menjadi mercuar, bagunan atau rumah. Sampai di hutan ada pala, cengkeh, kopi, sagu yang selalu pas di konsumsi ketika musim hujan.
Sudah 24 tahun rumah menjadi tempat pulang yang di rindukan. bagi kami, memeluk bapak setara dengan memberi energi kekuatan.
Di tiap kesempatan bapak menitip pesan lewat telephone katanya "kapan pulang".
Di rumah ini mama memasak
Tiup api kukus sangkola,
Kalau harga pasar sedang mahal, bakasang santap dengan neka-neka,
Ini sudah cukup untuk satu hari makan.
Hujan, badai dan angin kencang yang terjadi akhir-akhir ini membawa kecemasan di wajah bapak. rumah kami kecil, berdiri dengan tiang, papan, di tutupi atap seadanya. Atap rumah sering kali bocor, beberapa kali terlepas dibawa angin.
Hujan rintik-rintik di atas atap
Meratap pipih harapan patah-patah
Dalam hatinya gusar, bapak tidak tenang.
Hujan terus turun dan semakin deras, di pintu rumah tatapan bapak semakin jauh melihat satu persatu-satu tetes hujan. Bapak mengesap teh panas buatan mama, mengela nafas sebentar. Sembari berkata "rumah ini sudah tua, sewaktu-waktu bisa rubuh, kalau anak-anak pulang mau tinggal dimana".
Bapak sudah bertekad dengan tabungan yang ada bapak menyicil satu-persatu kebutuhan membeli atap,semen, pasir dan kebutuhan lainnya. Dalam memenuhi kebutuhan itu rupanya tabungan bapak tak sepenuhnya cukup. Untuk itu bapak menjual hasil kebunnya, dan terkadang meminjam di koperasi.
Bapak tau keputusan mengambil pinjamanan bukan hal yang mudah, karena bapak tidak suka berhutang apalagi meminta-minta. Kata bapak "bapak laki-laki, kepala keluarga, bapak punya tanggung jawab agar anak-anak bapak nyaman tinggal di rumah, masalah pinjaman bisa di cicil".
Rumah kami telah dibangun, bapak akhirnya bisa tersenyum dan tertawa, di usianya yang senja tak pernah lepas tanggung jawab untuk anak-anaknya. bahkan untuk rumah tempat tinggal anak-anaknya, masih dia pikirkan. Kata bapak kalau sudah saatnya bapak pergi, bapak tidak khawatir lagi kalian akan tinggal dimana.
Bapak, terima kasih atas cinta yang tak pernah padam. Bapak memikirkan segalanya untuk kami,
Sedang kami keliru memahami mu.
Hiduplah dengan baik lelakiku.
Wakal, 20 Januari 2020
5 Comments
Masya Allah.
BalasHapusPustaka berjalan💓
BalasHapus👍😊
BalasHapusArya, serius ini blogmu?
BalasHapusMantap jiwa. Tenanan.
Helo kakak salam kenal hehe.. ini blognya thikatara 😀 wah ada komentar kak Arya berarti salah lapak mungkin 😀
Hapus