Impian Bapak


Labbaikallahumma labbaik,
Laa syariikalaka labbaik
Innal hamda wanni'mata
Laka walmulk, laa syariikalak.

Sesaat dada bapak berdesir, sungguh-sungguh mentadaburi artinya.

"Aku memenuhi panggilanMu, ya Allah aku memenuhi panggilanMu. Aku memenuhi panggilanMu, tiada sekutu bagiMu, aku memenuhi panggilanMu. Sesungguhnya pujaan dan nikmat adalah milikMu, begitu juga kerajaan, tiada sekutu bagiMu."

Bapak memeluk hatinya erat-erat salawat berulang-ulang kali di ucapkan. Dengan  berbisik bapak berdoa.

" Bapak ingin melihat Ka'bah bersama ibu mu"

...........

Hari-hari sebelumnya ketika pergi berbelanja ke pasar orang-orang memanggil bapak dengan sebutan "Pak Haji" mungkin karena songkok yang terus bapak kenakan meksipun hanya sekedar pergi ke pasar. Bagi bapak songkok bukan lagi aksesori melainkan identitas dari mana bapak berasal, konon marganya selalu di bangga-banggkan karena merupakan leluhur dari pada wali songo.

Tepat hari ini bapak menghadiri walimatul safar sudah sekian kalinya bapak di undang entah memimpin doa atau memberikan ceramah. Di desa kami imam masjid sering di percayakan ketika memberikan tausiyah-tausiyah keagamaan.

27 Tahun lamanya bapak menabung tapi selalu saja uang tabungan hajinya dipakai lebih tepatnya terpakai, mau bagaimana lagi bapak harus menutupi kerugian usaha kuliner kakak yang berkisar puluhan juta. Dan untuk biaya operasi cucunya tidak lagi sedikit sepuluh juta harus bapak keluarkan.

"Bapak harus menabung, sementara keluarga kita masih perlu nafkah harus diselamatkan. anak-anak bapak tidak terlalu bertanggung jawab. Uang biar keluar pasti ada lagi kalau sudah waktunya bapak haji pasti Allah izinkan"

Bapak membuka tabungan haji bersama ibu, kata bapak "cara beribadah paling dicemburui penghuni langit adalah beribadah dengan orang yang kita sayang" abis itu bapak selalu menggoda anak perempuan satu-satunya yang belum juga menikah.

Ibu sakit keras tak ingin berobat kata ibu kalau uang tabungan di pakai lagi nanti tidak bisa pergi haji,  ibu masih kuat masih bisa melakukan aktivitas rumah tangga. Jangan khawatir masih ada obat kampung yang bisa jadi alternatif.

Suatu hari kami semua di kejutkan dengan berita ibu jatuh dan pendarahan di kepalanya, ibu di bawa ke rumah sakit. Saya yang baru pulang dari kajian masih terus berdoa agar ibu baik-baik. Ketiga kakak saya segera menyusul dari tempat mereka bekerja. Sementara bapak tidak bisa menahan pahitnya melihat ibu kesakitan.

Sejurus kemudian dokter memanggil kami karena ibu ingin bertemu. Kami segera bertemu ibu ingin segera menenangkan hatinya. Dengan nafas satu-satu ibu mengumpulkan tenaga seraya menatap dan menggenggam tangan ku "nak, ibu sayang kamu, jaga bapak mu". Sampai disitu ibu tak berbicara lagi nafasnya menghilang hanya bunyi peralatan medis mengisi kosong lorong kehidupan. Bapak memeluk ibu mencoba menghangatkan pelukan  tapi semuanya dingin.
Ibu pergi, pergi dengan bakti yang belum seberapa dari kami.


Ibu, rindu.


Wakal, 9 Juli 2019

1 Comments

My Instagram