Reading
Add Comment
Suara-suara di balik kerumunan orang lalu lalang dia senang menunggu seseorang, dari arah pintu masuk seorang lelaki berlari dengan nafas yang memburu.
"Maaf saya terlambat tolong jangan marah". Segera dia mengeluarkan buku berupa catatan perjalanan.
Perempuan itu lalu tersenyum dan memasukan buku kedalam tas.
"Tidak mengapa terima kasih sudah datang. Saya harus cepat, sampai bertemu lagi".
sejurus kemudian pesawat telah take off tepat azan isya terdengar.
.....
Dayna harus pergi mengejar mimpinya lebih tepatnya impian semua orang. Beberapa tahun terakhir yang dia habiskan dengan menempuh gelar Magister mengisi event-even nasional hinggah ditingkat internasional lalu berkerja diperusahaan yang dipercayakan di posisi bos. Nyatanya hati Dayna tak benar-benar dibebaskan.
Ada setumpuk sesak sejak kepergian ibunya, selama ini mereka hanya hidup berdua. Dayna tak pernah tau bagaimana kehidupan bapaknya sejak kecil mereka ditinggal tanpa sepeser rupiah. Dayna berdarah Sunda dan Ambon wajar saja diparas teduhnya tak banyak yang bisa membaca. Dayna selalu tenang meski banyak gemuruh yang dia tahan.
Ibu pernah berpesan "Day, ibu ingin kamu yang akan menyelamatkan ibu. hinggah ibu juga bangga di akhirat nanti".
Sebelum hari-hari sunyi yang di lewati sakit mag kronis yang di derita ibunya Dayna tak pernah sedikit pun menangis hinggah terdengar pesan ini dari lisan ibu, jiwa tegarnya runtuh dihantam badai perpisahan. Kini segala rasa dia kumpul satu persatu mencoba bangkit sendiri meski sesak terus menghampiri.
Sejak kepergian ibu, Dayna sering bermimpi bertemu ibu yang datang membawa Al-quran.
Bersambung...
Wakal, 9 Juli 2019
0 Comments:
Posting Komentar