Reading
Add Comment
“Aku
baru saja berada dalam lingkaran ini, merasakan hal-hal yang tak pernah Aku
rasakan sebelumnya, nikmatnya Ukhuwah yang melebihi dari saudara kandung
sendiri, lebih banyak mengorbankan perasaan terlebih orang-orang di sekitar
kita orang tua dan keluarga kita. dan takluput dari banyaknya berbesar hati.
Hal-hal seperti ini hanya Kau dapatkan bila berada dalam Jalan Dakwah ini, penuh
teka-teki masa depan dakwahmu hari ini dan seterusnya. apa yang akan kau
tinggali dan persembahkan di jalan dakwah ini .”
Nabi Nuh a.s. pada mulanya melakukan dakwah secara diam-diam, kemudian secara terang-terangan namun tidak juga berhasil. Dan terakhir kalinya Nabi Nuh a.s. melakukan kedua cara itu dengan sekaligus. Demikian perjuangan beliau yang tiada henti, berpikir dan sekaligus mempraktekkan segala bentuk strategi perjuangan dakwah semaksimal mungkin. Begitupun dakwah yang dilakukan oleh Nabi Musa adalah dakwah sirriyyah namun pada saat itu yang dilakukan adalah kader dakwah yang telah berhasil ditarbiyahkan.
Kini, Sang Pioner peradaban Nabi Muhammad SAW menerima Amanah besar perintah melaksanakan Dakwah kepada Allah. Sebagaimana 3 tahun dakwah secara sembunyi-sembunyi. keluarga, isri dan sahabat-sahabat Rasulullah yang menjadi kawanan pertama yang masuk islam kemudian, di ajarkan untuk mengerjakan shalat. Pada tahapan ini islam sudah tercium oleh orang-orang Quraisy tetapi mereka tak peduli. Sebab mereka mengira bahwa Muhammad hanya salah seorang di antara mereka yang peduli terhadap urusan agama, yang suka berbicara tentang masalah ketuhanan dan Hak-haknya. Tapi lama-kelamaan ada pula perasaan khawatir yang mulai menghantui mereka karena pengaruh tindakan beliau. oleh karena itu mereka mulai menaruh perhatian terhadap dakwah beliau.
Dakwah Secara Terang-terangan, pertama kali menampakkan dakwah menyeruh kerabat-kerabat dekat, wahyu pertama yang turun dalam masalah ini adalah firman Allah “ Dan, berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang dekat” (Asy-Syu’ara’:214) langkah pertama yang dilakukan Rasulullah SAW setelah turun ayat ini ialah mengundang Bani Hasyim.mereka memenuhi undangan ini, yaitu beberapa orang dari Bani Al-Munththalib bin Abdi Manaf, yang jumlahnya ada 45 orang.
Rasulullah juga mempersaudarakan Kaum Muhajirin dan Kaum Anshar. ini yang di namakan Ukhuwah Islamiyah, persaudaraan yang dilakukan oleh Rasulullah ketika hijrah ke Madinah. maka, benar lah ini “ Aku telah merasakan perkenalan, bahkan kesepakatan itulah ruh-ruh kita yang saling sapa, berpeluk mesra dengan iman yang menyala, mereka telah mufakat meski lisan belum saling sebut nama, dan tangan belum berjabat”.(Kubaca Firman persaudraan;Dalam dekapan Ukhuwah).
Beberapa Cara menghadang Dakwah, takkala orang-orang Quraisy tahu bahwa Muhammad SAW sama sekali tidak menghentikan dakwahnya, maka mereka memeras pikiran sekali lagi. Untuk itu mereka memilih beberapa cara untuk membenamkan dakwah ini, yang bisa disimpulkan yaitu, ejekan, penghinaan,olok-olok dan penertawaan , mereka melemparkan berbagai tuduhan yang lucu dan ejekan liat Qs. Al-Hijr : 6, Qs.Shad : 4 , Qs.Al-Qalam : 51, Qs. Al-An’am : 53 dan Qs. Muthaffifin : 29-33, tak hanya itu mereka juga mengejek-ngejek ajaran beliau, melawan Al-quran, menyodorkan beberapa bentuk penawaran adalah agar beliau menyembah sesembahan mereka selama setahun dan mereka menyembah Rabb beliau selama setahun kemudian.
Saat di Thaif, setelah beberapa hari tinggal, orang-orang Thaif makin murka atas seruan beliau. dari dua barisan mereka mengejar dan melempari beliau dengan batu, tubuhnya lebam.kakinya luka. Darah meleleh membasahi terompanya. Zaid ibn Haritsah yang membentengi beliau denagn tubuh, entah berapa luka yang tertoreh di kepala beliau. beliau dihinakan dan di usir, beliau terus dikejar dan disakiti. Dan saat itu segumpal awan menaungi beliau dan disana tampak lah malaikat Jibril “ Sesungguhnya ujar jibril” Allah telah mendengar apa yang dikatakan kaummu kepadamu dan dia telah melihat apa yang mereka perbuat atas dirimu. Allah telah mengutus malaikat yang menjaga gunung agar engkau menyuruhnya melakukan apa pun yang kau kehendaki atas kaummu”
“Wahai Muhammad” malaikat yang ditunjuk Jibril itu berseru ini telah terjadi, dan apa yang kini kau kehendaki? Jika engkau menginginkan untuk meratakan Akhsyabain, yakni jabal Abu Qubais Qa’aiqa’a, dan menimbunkannya pada mereka, tentu aku akan melakukannya. “ Justru aku berharap” jawab sang Nabi dengan teduh “ agar Allah mengeluarkan dari sulbi-sulbi mereka orang-orang yang kan menyembahNya dan tak menyekutukanNya.
Ah, betapa sangat berbesar hati, lemah lembut dalam memberikan nasehat, sampai dipenghujung akhir hayatnya beliau masih mengingat umat-umatnya. begitu cepat lelahnya kita ? begitu banyak kata mengeluh ataupun berhenti sejenak dan bangkit kembali ?. kemana hasil tarbiyah yang kita geluti ? sejauh mana pengorbanan kita untuk jalan ini? Sudah sebesar apa kontribusi kita dijalan ini ? sudah sejauh mana keikhlasan perjuangan kita dijalan ini ? Mari kita renungkan dibawah naungan jiwa dan perasaan kita hening, hangat, tenang dalam munajat cinta Ilahi.
“Biar lah kesakitan itu menjadi terbiasa, kelelahan itu menjadi teman perjalanan, dan kekufuran yang terbiasa datang dan pergi biarlah semua menjadi Rasa yang terbiasa”
“Ketenangan adalah syarat utama untuk menjadi manusia yang produktif. Cinta mengharuskan kita memiliki orientasi pada performansi yang kuat. Dan itu hanya mungkin dicapai ketika kita mengalami titik keseimbangan tertinggi pada proses penerimaan dan pengeluaran energy. Ketenangan adalah cara menghemat energy. Tapi perenungan adalah cara menyerap Energi Dan memberi adalah cara menyalurkan energy. (Baca: Serial Cinta “H. M “bagian jalan sunyi sang pencipta” )
0 Comments:
Posting Komentar